Rabu, 06 November 2013

Bagaimana Memulai menulis?

Bagaimana Memulai menulis?
Banyak yang ingin menulis ke media tapi bingung bagaimana memulainya. Ada dua cara:
1. Mempelajari teori menulis baru praktik
2. Learn the hard way atau menulis dulu teori belakangan.

Terserah kita mana yang lebih enak dan nyaman. Tapi, berdasarkan pengalaman dari penulis-penulis yang tulisannya sudah banyak dimuat di media, alternatif kedua tampaknya lebih bagus. Rizqon Khamami, Zamhasari Jamil, A. Qisai, Tasar Karimuddin, Beben Mulyadi, Jusman Masga, Irwansyah, dan lain-lain semuanya belajar menulis dengan langsung mengirim tulisannya. Bukan dengan belajar teori menulis lebih dulu.
Sulitkah Menulis?
Sulitkah menulis? Iya dan tidak. Sulit karena kita menganggapnya sulit. Mudah kalau kita anggap “santai”. Eep Saifullah Fatah, penulis dan kolomnis beken Indonesia, mengatakan bahwa menulis akan terasa mudah kalau kita tidak terlalu terikat pada aturan orang lain. Artinya, apa yang ingin kita tulis, tulis saja. Sama dengan gaya kita menulis buku diary. Setidaknya, itulah langkah awal kita menulis: menulis menurut gaya dan cara kita sendiri. Setelah beberapa kali kita berhasil mengirim tulisan ke media, dimuat atau tidak itu tidak penting, barulah kita dapat melirik buku-buku teori menulis, untuk mengasah kemampuan menulis kita. Jadi, tulis-tulis dahulu; baca teori menulis kemudian. Seperti kata Rhoma Irama, penyanyi kesayangan Malik Sarumpaet.
Topik Tulisan
 
Topik tulisan, berupa tanggapan tentang fenomena sosial yang terjadi saat ini. Contoh, apa tanggapan Anda tentang bencana gempa dan tsunami di Aceh? Apa tanggapan Anda seputar pemerintahan SBY? Apa tanggapan Anda tentang dunia pendidikan di Indonesia? Dan lain-lain.
Sekali lagi, usahakan menulis sampai 700 kata dan maksimum 1000 kata. Dan setelah itu, kirimkan langsung ke media yang dituju. Jangan pernah merasa tidak pede. Anda dan redaktur media tsb. kan tidak kenal. Mengapa mesti malu mengirim tulisan? Kirim saja dahulu, dimuat tak dimuat urusan belakangan. Keep in mind: Berani mengirim tulisan ke media adalah prestasi dan mendapat satu pahala. Tulisan dimuat di media berarti dua prestasi dan dua pahala. Seperti kata penulis dan ustadz KBRI, Rizqon Khamami.
Rendah Hati dan Sifat Kompetitif
Apa hubungannya menulis dengan kerendahan hati? Menulis membuat kita menjadi rendah hati, tidak sombong. Karena ketika kita menulis dan tidak dimuat, di situ kita sadar bahwa masih banyak orang lain yang lebih pintar dari kita. Ini terutama bagi rekan-rekan yang sudah menjadi dosen yang di mata mahasiswa-nya mungkin sudah paling ‘wah’ sehingga mendorong perasaan kita jadi ‘wah’ juga alias ke-GR-an.
Nah, menulis dan mengririm tulisan ke media membuat kita terpaksa berhadapan dengan para penulis lain dari dunia dan komunitas lain yang ternyata lebih pintar dari kita yang umurnya juga lebih muda dari kita. Di situ kita sadar, bahwa kemampuan kita masih sangat dangkal. Kita ternyata tidak ada apa-apanya. Ketika kita merasa tidak ada apa-apanya, di saat itulah sebenarnya langkah awal kita menuju kemajuan.
Kita juga akan terbiasa menghargai orang dari isi otaknya bukan dari umur atau senioritasnya apalagi jabatannya. Di sisi lain, membiasakan mengirim tulisan ke media membuat sikap kita jadi kompetitif. Sekedar diketahui, untuk media seperti KOMPAS, tak kurang dari 70 tulisan opini yang masuk setiap hari, dan hanya 4 tulisan yang dimuat. Bayangkan kalau Anda termasuk dari yang empat itu. Itulah prestasi. Dan dari situlah kita juga belajar menghargai prestasi dan keilmuan serta kekuatan mental juara seseorang.


Pulau Sebatik



Pulau Sebatik: Dilema Rakyat di Ujung Negeri

Sebatik merupakan salah satu pulau terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pulau ini menjadi pintu gerbang Indonesia di wilayah Kalimantan, tepatnya di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur, yang berbatasan lansung dengan negeri Sabah, Malaysia. Pulau Sebatik hanya berjarak 20 menit dari Nunukan dengan menggunakan speed boat. Merupakan salah satu pulau kecil terluar dari 31 pulau yang berpenduduk. Pulau ini terbagi dua wilayah antara Indonesia dan Malaysia dengan pembangunan yang sangat kontras.
Pada 1911-1942, pulau Sebatik merupakan daerah eksploitasi kayu bagi penjajah Belanda. Saat itu dilakukan pemasangan patok perbatasan Indonesia-Malaysia oleh Belanda dan kolonial Inggris. Status kepemilikan pulau Sebatik pun terbagi dua, yaitu wilayah selatan seluas 246,61 Km2 milik Indonesia dan wilayah utara 187,23 Km2 milik Malaysia.
Ambo Mang bin Haji Midok diyakini sebagai orang pertama yang membawa keluarganya menetap di Sebatik pada 1940, tepatnya di daerah Liang Bunyu. Sekarang terdapat ratusan kepala keluarga tinggal dan menetap di sana.
Potensi sumber daya hayati Sebatik cukup menjajikan jika dikelola dengan baik, seperti sektor kelautan dan perikanan (rumput laut dan udang), lahan pertanian, pekebunan (kelapa sawit), dan wisata tapal batas. Pada jasa kemaritiman, pulau Sebatik berhadapan langsung dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang merupakancompetitive advantage bagi pengembangan industri pelayaran, baik dalam negeri, luar negeri, maupun pelayaran khusus.
Sarana dan prasarana di pulau Sebatik relatif memadai dengan indikasi kondisi jaringan jalan poros yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan dan seluruh ibukota kecamatan secara eksisting telah terbentuk melingkar (mengelilingi pulau) sepanjang ± 79 km. Namun, kebutuhan energi listrik di pulau tersebut belum terpenuhi secara memadai dan merata. Demikian pula keberadaan air bersih masih menjadi kebutuhan pokok yang sampai saat ini belum terakses  semua warga. Terdapat PDAM Tirta Darma yang berlokasi di Kecamatan Sebatik Utara, namun hanya mampu melayani 708 keluarga.
Dalam dua tahun terakhir, terdapat beberapa isu strategis di wilayah Sebatik yang mengemuka, yaitu isu pergeseran patok perbatasan dan pemakaian uang ringgit. Bagai “dua sisi mata uang”, isu ini selalu dianggap sebagai ancaman NKRI. Isu lain yang tidak kalah penting adalah tidak seimbangnya perkembangan pembangunan wilayah di perbatasan dengan negara tetangga. Contohnya, fakta bahwa pembangunan Malaysia jauh lebih maju daripada wilayah RI di perbatasan yang memungkinkan terjadinya degradasi nasionalisme.
Namun, kebijakan terkait kawasan perbatasan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, yaitu Perencanaan dalam Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan, ternyata bersifat makro karena unit analisisnya adalah pulau besar. RPJMN 2010-2014 juga belum memberikan orientasi bagi pembangunan kawasan perbatasan/PPKT secara terpadu. Pendekatan sektoral masih lebih dominan dibandingkan pendekatan regional. Akibatnya, hingga kini belum ada rencana pembangunan yang berorientasi pada upaya pembangunan kawasan perbatasan yang terintegrasi dan rinci.
Bahkan, ada rumah warga yang berlokasi tepat di garis perbatasan sehingga ruang tamu masuk wilayah Indonesia, sedangkan ruang dapur berada di Malaysia. Tidak mengherankan juga kemudian sering muncul isu internasional menyangkut status kepemilikan pulau Sebatik, yang mengakibatkan hubungan Indonesia dan Malaysia memanas dan mengalami pasang surut. Tetapi masyarakat Sebatik dan Tawau Malaysia tidak terpengaruh, mereka tetap menjalankan hubungan yang harmonis, karena sebagian penduduk Sebatik dan Tawau ternyata masih bersaudara, mereka sama-sama berasal dari Bugis.
Secara ekonomi masyarakat Sebatik sangat bergantung kepada Malaysia, khususnya ke Tawau. Hampir semua komoditas yang dihasilkan masyarakat, seperti ikan, sawit dan coklat dijual ke Negeri Jiran. Masyarakat Sebatik juga membeli berbagai kebutuhan sehari-hari dari Tawau. Tidak heran jika ada dua mata uang yang beredar di sana, yakni rupiah dan ringgit. Tapi, warga setempat lebih menyukai ringgit karena nilainya lebih tinggi. Secara geografis, pulau Sebatik juga lebih dekat ke Tawau yang hanya ditempuh dalam waktu 15 menit, bila dibandingkan ke Pulau Nunukan yang memakan waktu 30 menit dengan alat transportasi yang sama dengan ongkos dua kali lipat lebih tinggi.
Perbedaan mencolok yang membuat iri masyarakat Indonesia di pulau Sebatik adalah jika pada malam hari menyaksikan kota Tawau bermandikan cahaya dengan gedung-gedung tinggi, sebaliknya masyarakat di pulau Sebatik gelap-gulita dengan hanya mendapat jatah penerangan listrik dua hari sekali. Belum lagi ketiadaan jaringan air bersih dan jalan rusak, serta pelayanan kesehatan dan minimnya pendidikan, menambah terkucilnya masyarakat Sebatik di tengah gemerlap cahaya kemakmuran Negari Jiran.
Belajar dari sengketa kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan, sengketa blok Ambalat, pengusiran ratusan ribu TKI dan munculnya Asykar Watanlyah yang direkrut dari warga perbatasan, maka sudah sepantasnya pemerintah memberikan perhatian lebih pada pulau Sebatik.
Memahami perbatasan adalah tentang mengidentifikasi kontradiksi inheren yang kritis dari dua realitas yang sulit dipertemukan. Realitas pertama adalah realitas kartografi yang kaku, dan realitas lainnya, yang bertolak-belakang adalah realitas ekologi-sosial-budaya yang dinamis. Pemahaman perbatasan yang kritis ini menjadi sangat penting dalam menyusun alternatif pembangunan wilayah perbatasan sebagai ‘halaman depan’ yang lebih bermakna, manusiawi dan substantif.
Hal itu harus menjadi pelajaran dalam perumusan kebijakan pembangunan, rencana induk atau rencana aksi pengembangan perbatasan ke depan. Pemahaman tentang dinamisme wilayah perbatasan akan menjadi dasar kuat bagi formulasi kebijakan yang manusiawi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perbatasan. Demikian juga dengan kebijakan pengembangan pulau Sebatik yang diduduki dua negara. Rencana aksi pengembangan pulau Sebatik selayaknya tidak hanya melihat wilayah yang menjadi bagian Indonesia, tetapi sebagai satu kesatuan NKRI (Telah dimuat di Harian Suara Pembaruan Edisi JUmat 22 Februari 2013)

Oleh: Dr. Y. Paonganan, M.Si.
Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute

Martabak Manis Bapak Akso



MARTABAK MANIS
BAPAK AKSO

Dosen pengampu: Drs. Ign Wagimin, M.Si

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewirausahaan


Disusun oleh:
Nama       : Ana Pangesti
NIM         : K5412008
Prodi        : Pendidikan geografi



JURUSAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN  ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
TAHUN 2013
MARTABAK MANIS
BAPAK AKSO
Gambar Martabak manis
Usaha martabak manis bapak Akso di mulai sejak tahun 2006. Martabak manis bapak Akso beralamat di jalan pemandian timur, tepatnya pertigaan Sakal Putung dari pasar seruni ke arah utara 50 meter.
Bahan untuk membuat martabak manis ala bapak Akso, antara lain:
Ă˜  Tepung terigu
Ă˜  Soda kue
Gambar . Soda kue dan Fermipan
Ă˜  Fermipan
Ă˜  Gula pasir
Ă˜  Garam
Untuk tepung terigu 1 kg, bapak Akso menggunakan soda kue satu sendok teh dan satu sendok teh vermipan.
Modal untuk pembuatan satu kilogram martabak manis bapak Akso sebanyak 15 ribu. Modal tersebut untuk membeli bahan-bahan pembuatan martabak manis yaitu tepung terigu, vermipan, gula dan garam. Dengan bermodalkan 15 ribu, bapak Akso menjual 30 ribu kepada ke konsumennya.
Satu kilogram adonan martabak manis dapat dibuat lima buah martabak manis yang siap untuk di jual. Satu buah martabak manis di jual murah oleh bapak Akso seharga 6 ribu rupiah. Alasan menetapkan harga yang murah karena bapak Akso melihat kondisi sasaran konsumennya sebagian besar adalah masyarakat desa yang umumnya berada pada kalangan menengah ke bawah. Dengan  harga yang murah, harapan bapak Akso dapat melayani masyarakat setempat. Setiap harinya bapak Akso hanya berani memproduksi martabak manis sebanyak 3 kg, dengan keuntungan 15 ribu per kilogram. Sehingga bapak Akso mendapat keuntungan 45 ribu per hari jika adonan martabak manis terjual habis. “Sayangnya tidak setiap hari adonan martabak manis dapat terjual habis terjual”, tutur bapak Akso saat wawancara. Sehingga keuntungan yang di peroleh tidak dapat diperkirakan tergantung dengan konsumen. Adonan yang tidak habis terjual oleh bapak Akso tetap di buat martabak untuk di bagikan secara gratis kepada tetangga-tetangga bapak Akso.
Martabak manis yang di jual bapak Akso tesedia aneka rasa diantaranya yaitu cokelat, kacang, cokelat kacang dan ketan hitam. 
Meses
kacang
Ketan Hitam






Martabak manis rasa cokelat

 
Martabak manis rasa cokelat kacang
Martabak manis rasa kacang

Martabak manis rasa ketan hitam
 
Untuk menambah vasriasi, bapak Akso menjual martabak telor. Namun tidak sebanyak martabak manis dalam memproduksi martabak telor.
Gambar  Martabak telor
Modal untuk membuat martabak telor lebih besar dari martabak manis yaitu 25 ribu per kilogram dan apabila dapat terjual habis bapak Akso memperoleh keuntungan sama seperti keuntungan martabak manis per kilogramnya.
Bahan untuk membuat martabak telor
Ă˜  Tepung terigu
Ă˜  Telor
Ă˜  Muncang
Gambar  muncang
Ă˜  Daging sapi
Ă˜  Minyak goreng
Tepung terigu di campur telor untuk pembungkus martabak telor, sedangkan untuk isinya menggunakan bahan muncang, daging sapi dan sedikit campuran telor.
Untuk memasak martabak telor, bapak Akso menggunakan penggorengan sendiri berbeda dengan alat yang di gunakan untuk memasak martabak manis, yaitu dengan menggunakan teflon. 
Penggoreng martabak telor
Penggoreng martabak manis (teflon)
Keuntungan yang di paparkan bapak Akso, belum merupakan keuntungan bersih. Bapak Akso tidak memperhitungkan tenaga kerja yang membantu usaha martabak telor, karena tenaga kerja yang membantu bukan orang luar melainkan dari keluarga sendiri. Peralatan yang di gnakan untuk operasional, seperti gerobak, penggorengan, teflon dan peralatan lainnya di anggap tidak mengeluarkan biaya.
Usaha yang di kelola oleh bapak Akso di bantu keluarga bapak Akso sendiri, termasuk usaha yang masih kecil. Selain tenaga kerja dari keluarga sendiri, modal usaha setelah berjalan termasuk kecil. modal awal untuk memberi peralatan untuk membuka usaha dan keberlangsungan operasional lumayan besar.
Sumber : Hasil wawancara langsung dengan bapak Akso, pemilik usaha martabak manis dan martabak telor di sekitar area pasar seruni, Kebumen.