Tampilkan postingan dengan label kolokium. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolokium. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2016

PENGARUH PERTUMBUHAN PENDUDUK TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2013

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kolokium

Dosen pengampu: Dr. Sarwono, M.Pd
oleh: Ana Pangesti

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penduduk Kabupaten Sukoharjo pada akhir tahun 2010 mencapai 846.978 jiwa meningkat dari tahun 2009 sebanyak 843.127 jiwa. Sebaran penduduk antar kecamatan bervariasi dimana kecamatan dengan jumlah penduduk paling besar adalah Kecamatan Grogol dengan jumlah penduduk 104.055 jiwa dan paling sedikit Kecamatan Bulu 51.418 jiwa. Kepadatan penduduk di Kabupaten Sukoharjo pada akhir tahun 2010 mencapai 1.815 jiwa/km2.
Pertumbuhan penduduk yang pesat akan berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan masyarakat. Diantara kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan fasilitas kehidupan, adapun fasilitas-fasilitas tersebut antara lain: pusat perbelanjaan, pusat pendidikan, perumahan, tempat rekreasi, sarana kesehatan, dan lain-lain. Untuk memenuhi kebutuhan fasilitas tersebut dilakukan pembangunan, dalam melakukan pembangunan terutama yang bersifat fisik tentu saja akan memerlukan wadah atau ruang (lahan) sebagai tempat melakukan pembangunan, sedangkan jumlah luas lahan yang tersedia terbatas.
Ditinjau dari segi unsur kekotaan dan kedesaan, Kabupaten Sukoharjo merupakan wilayah yang dapat dikategorikan sebagai wilayah peri urban. Wilayah  peri urban adalah wilayah yang berada diantara wilayah yang bersifat kekotaan sepenuhnya (the real urban region) dan wilayah yang bersifat kedesaan sepenuhnya (the real rural region). Diantara “the real urban land” dan “the real rural land” inilah wilayah peri urban berada yang di dalamnya terdapat percampuran bentuk pemanfaatan lahan kekotaan di satu sisi dan bentuk pemanfaatan lahan agraris di sisi lain.
Masalah yang seringkali melanda wilayah peri urban adalah semakin meningkatnya alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian. Hilangnya lahan pertanian, menurunnya produktivitas pertanian, menurunnya komitmen petani terhadap lahan maupun kegiatan pertaniannya, hilangnya bidang pekerjaan pertanian, ketidaksiapan petani masuk ke sektor non-pertanian/kekotaan dan hilangnya atmosfir kedesaan dalam berbagai dimensi merupakan beberapa contoh dampak negatif dalam skala lokal dan regional yang secara langsung maupun tidak langsung telah berpengaruh terhadap peri kehidupan sektor kedesaan.
Kecenderungan tersebut jelas akan mengakibatkan semakin lebarnya disparitas (kesenjangan) antara kemampuan menyediakan bahan pangan dan meningkatnya tuntutan akan bahan pangan atau disparitas antara produksi dan konsumsi yang akan semakin lebar. Pada saat ini saja permasalahan pemenuhan bahan pangan sudah mulai terganggu, sehingga pemerintah harus mengimport dari negara lain. Dalam masa dimana kemampuan ekonomi Indonesia memadai, mengimport bahan pangan mungkin tidak mendatangkan permasalahan yang berarti. Namun dalam masa terjadinya konflik/ketegangan politik antara negara di kawasan Asean, masalah ini akan menjadi sangat krusial.
Sektor pertanian mempunyai peran yang cukup besar terhadap PDRB Sukoharjo. Pada Tahun 2013 sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 18% terhadap pembentukan PDRB. Sektor pertanian terdiri atas beberapa sub sektor, yaitu : tanaman bahan makanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Dari kelima sub sektor tersebut, sub sektor tanaman bahan makanan memberikan nilai tambah paling besar dibandingkan sub sektor lainnya.
Dibandingkan tahun sebelumnya, produksi padi sawah di Kabupaten Sukoharjo turun 5,45% dari 346.039 Ton menjadi 327.182 Ton pada tahun 2013. Penurunan produksi tersebut dikaenakan berkurangnya luas panen sebesar 8,19 % dari 52.041 hektar menjadi 47.783 hektar. Sementara dari sisi produktivitas padi sawah terlihat adanya peningkatan dibandingkan tahun 2012. Tercatat produktivitas padi sawah sebesar 68,47 kuintal per hektar lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 66,49 kuintal per hektar. (Statistik Daerah Kabupaten Sukoharjo 2014).
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengkaji penelitian dengan judul “Pengaruh Pertumbuhan Penduduk terhadap Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian di Kabupaten Sukoharjo Tahun 2013”.
A.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah masalah sebagai berikut:
1.      Seberapa besar pertumbuhan penduduk di kabupaten Sukoharjo tahun 2013
2.      Bagaimana perubahan penggunaan lahan pertanian yang terjadi di Kabupaten Sukoharjo tahun 2013
3.      Bagaimana pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perubahan penggunaan lahan pertanian di Kabupaten Sukoharjo tahun 2013
B.     Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1.      Mengetahui pertumbuhan penduduk di kabupaten Sukoharjo tahun 2013
2.      Mengetahui perubahan penggunaan lahan pertanian yang terjadi di Kabupaten Sukoharjo tahun 2013
3.      Mengetahui pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perubahan penggunaan lahan pertanian di Kabupaten Sukoharjo tahun 2013

C.    Manfaat Penelitian
1.      Memberikan sumbangan pengetahuan dalam bidang studi Geografi khususnya dalam kajian pertumbuhan penduduk dan perubahan penggunaan lahan pertanian.
Memberikan informasi kepada semua pihak yang memerlukan terutama pemerintah daerah Kabupaten Sukoharjo tentang perubahan penggunaan lahan, khususnya perubahan dari sektor pertanian ke non pertanian di kabupaten Sukoharjo.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Kajian Teori
1.      Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk dunia sejak dahulu sampai sekarang tidak tetap dan tidak seragam di semua daerah, hal itu berbeda-beda untuk setiap periode dan setiap golongan penduduk. Pada hakekatnya suatu pertumbuhan penduduk hanya berpangkal pada lima sumber, yaitu fertilitas, mortalitas, perkawinan, migrasi, dan
mobilitas sosial.
Ilmu yang mempelajari hal-ikhwal penduduk ini disebut ilmu penduduk atau ilmu kependudukan yang di buku-buku asing sering disebut dengan istilah demografi. Kata demografi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu “demos” yang artinya penduduk, dan “graphien” yang artinya menulis. Jadi demografi menurut kata aslinya berarti tulisan atau karangan tentang penduduk satu negara.
Agar mudah dibedakan dengan ilmu-ilmu sosial yang lain, maka batasan tentang demografi sebagai berikut : Demografi adalah studi matematik dan statistik terhadap jumlah, komposisi, dan distribusi spasial dari penduduk manusia, dan perubahan-perubahan dari aspek aspek tersebut yang senantiasa terjadi sebagai akibat terjadinya lima proses yaitu: fertilitas, mortalitas, perkawinan, migrasi, dan mobilitas sosial.
pertumbuhan penduduk alamiah adalah selisih antara tingkat kelahiran dan tingkat kematian. Yang dimaksud dengan tingkat kelahiran adalah jumlah bayi yang lahir dari setiap 1.000 penduduk dalam satu tahun. Rumus untuk menghitung tingkat kelahiran adalah sebagai berikut:
Tingkat kelahiran demikian, sering dikatakan sebagai tingkat kelahiran kasar. Karena dalam perhitungan tadi dihitung juga orang laki-laki, anak-anak ataupun orang yang sudah tua yang tidak melahirkan. Karena itu sering tingkat kelahiran ini dihitung dengan lebih teliti lagi.
Sama halnya dengan tingkat kelahiran, tingkat kematian juga diperhitungkan dari jumlah penduduk yang mati dalam satu tahun, dari setiap 1.000 penduduk. Karena itu cara perhitungannya adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui rata-rata pertumbuhan penduduk di suatu daerah dapat diukur dengan tiga formula yaitu sebagai berikut:
a.       Pertumbuhan penduduk aritmatik
Pertumbuhan penduduk aritmatik adalah pertumbuhan penduduk dengan jumlah absolut yang sama setiap tahun, dengan rumus :
Pn  = Po (1 + r . n)
Pn  = Jumlah penduduk pada tahun n
Po  = Jumlah penduduk pada tahun awal
r     = Angka pertumbuhan penduduk
n    = Periode waktu dalam tahun
b.      Pertumbuhan penduduk geometrik
Rumus :     Pn = Po (1 + r)n
Pn = jumlah penduduk pada tahun n
Po = jumlah penduduk pada tahun awal (dasar)
r = rate pertumbuhan penduduk
n = periode waktu dalam tahun
c.       Pertumbuhan penduduk eksponensial
Pertumbuhan penduduk secara eksponensial adalah pertumbuhan penduduk secara terus menerus (kontinyu) setiap hari dengan rate pertumbuhan yang konstan.
Rumus :     Pn = Po . e rt
Pn = jumlah penduduk pada tahun ke n
Po = jumlah penduduk pada tahun awal (dasar)
r = rate pertumbuhan penduduk
n = periode waktu dalam tahun

e = bilangan pokok dari sistem logaritma natural yang besarnya
adalah 2, 7182818 log e = 0. 4343
Masalah kependudukan di Indonesia dikategorikan sebagai suatu masalah nasional yang besar dan memerlukan pemecahan segera. Hal tersebut mencakup lima masalah pokok yang saling terkait satu sama lain, yaitu:
a.       Jumlah penduduk yang besar.
b.      Tingkat pertumbuhan yang tinggi
c.       Penyebaran penduduk yang tidak merata.
d.      Komposisi umur penduduk yang timpang.
e.       Dan masalah mobilitas penduduk.
Masalah kependudukan ini telah menjadi induk dari berbagai masalah lain. Apabila tidak segera ditangani tidak mustahil akan mendatangkan efek yang lebih parah lagi dan dapat melumpuhkan pembangunan nasional.
2.      Konsep Lahan
Lahan dapat diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas; iklim, relief, tanah, air, dan vegetasi, serta benda yang ada di atasnya, sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Termasuk di dalamnya juga hasil kegiatan manusia di masa lampau dan sekarang, seperti hasil reklamasi laut, pembersihan vegetasi, dan juga hasil yang merugikan, seperti tanah yang tersalinasi.
Lahan bukan hanya tanah yang berada di permukaan bumi tetapi merupakan gabungan unsur-unsur yang berada di permukaan bumi. Tanah merupakan unsur utama bagi lahan, akan tetapi suatu lahan tidak hanya terdiri atas tanah saja. Lahan pada dasarnya memiliki dimensi ruang. Dengan melibatkan dimensi ruang, maka nilai lahan tidak bersifat statis, dan akan menjadi lebih dinamis karena berkaitan dengan kesempatan ekonomi yang banyak ditentukan oleh posisi lahan dalam ruang itu sendiri. Suatu lahan yang berada di pusat-pusat permukiman misalnya, akan memiliki nilai lahan yang lebih tinggi dibandingkan lahan yang letaknya terisolir walaupun lahan yang terisolir tersbut lebih subur.


3.      Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan ( land use) diartikan sebagai setiap bentuk intervensi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik materiil maupun spiritual. Penggunaan lahan dapat di kelompokkan ke dalam dua golongan besar yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan dalam garis besar ke dalam macam penggunaan lahan berdasarkan atas penyediaan air dan komoditi yang diusahakan, dimanfaatkan atau yang terdapat di atas lahan tersebut. Berdasarkan hal tersebut dikenal macam penggunaan lahan seperti tegalan, sawah, kebun kopi, kebun karet, padang rumput, hutan produksi, hutan lindung, padang alang-alang, dan sebagainya. Penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibedakan kedalam penggunaan kota atau desa (permukiman), industri, rekreasi,pertambangan dan sebagainya.
Penggunaan lahan adalah segala campur tangan manusia baik secara siklis ataupun secara permanen terhadap suatu kumpulan sumber daya alam dan sumber daya buatan yang secara keseluruhan dapat disebut lahan, dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan baik kebendaan ataupun spiritual ataupun keduanya.
Dari definisi penggunaan lahan tersebut manusia mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan bentuk penggunaan lahan. Manusia memanfaatkan lahan untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia akan lahan terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk. Pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan luas lahan yang tersedia akan menyebabkan tumpang tindih kepentingan dan konflik kepemilikan lahan, hal ini disebabkan karena lahan yang ada tidak mengalami pertambahan luas (statis).
4.      Penggunaan Lahan Pertanian
Tanah sawah adalah tanah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah, baik secara terusmenerus sepanjang tahun maupun maupun bergiliran dengan tanaman palawija. Istilah tanah sawah bukan merupakan istilah taksonomi, tetapi merupakan istilah umum, seperti halnya tanah hutan, tanah perkebunan, tanah pertanian, dan sebagainya.
Dari pengertian tersebut, istilah ‘tanah sawah’ berhubungan langsung dengan penggunaan lahan dan tidak berkaitan dengan jenis tanah tertentu dalam pengertian pedologi.
5.      Perubahan Penggunaan Lahan
Berbagai macam bentuk pembangunan yang telah dan sedang dilaksanakan pada saat ini, terutama pembangunan yang bersifat fisik, tidak terlepas dari kebutuhan akan lahan. Ketersediaan lahan pada suatu daerah apabila dikaitkan dengan kebutuhan lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan pembangunan, tidak mencukupi. Hal ini disebabkan karena kebutuhan lahan oleh manusia dan pembangunan semakin besar sedangkan lahan merupakan modal tetap, artinya orang tidak dapat menambah jumlahnya di suatu daerah.
Oleh karena semakin meningkatnya kebutuhan lahan untuk mencukupi kebutuhan manusia, dan bersamaan dengan itu pula pembangunan membutuhkan lahan, mengakibatkan adanya benturan kepentingan dan akhirnya mengakibatkan terjadinya perubahan penggunaan lahan.
Perubahan penggunaan lahan pada hakekatnya adalah perubahan lingkungan, yaitu mengurangi resiko lingkungan dan atau memperbesar manfaat lingkungan.Sejak berabad-abad yang lalu nenek moyang kita telah mengubah hutan menjadi daerah pemukiman dan pertanian. Contoh perubahan lahan yang pernah dilakukan pada zaman dahulu yaitu perubahan hutan menjadi sawah, yang merupakan usaha untuk memanfaatkan lahan untuk produksi bahan makanan dalam kondisi curah hujan yang tinggi, dan juga untuk mengurangi resiko erosi di daerah bergunung.
Alih fungsi atau perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain pada suatu waktu ke waktu berikutnya, atau berubahnya fungsi suatu lahan pada suatu daerah pada kurun waktu yang berbeda. (www.balai_tanah.litbang.deptan.go.id)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konversi lahan pertanian pada dasarnya merupakan suatu proses alamiah yang terkait dengan tiga faktor dasar yaitu: kelangkaan lahan, dinamika pembangunan, dan pertumbuhan penduduk.(www.balai_tanah.litbang.deptan.go.id)
Menurut Simatupang dan Irawan akar penyebab konversi lahan pertanian ialah: (1) pertumbuhan dan perkembangan ekonomi (2) pertumbuhan dan perkembangan penduduk. Di Indonesia, kedua faktor ini masih sangat besar dan mustahil dicegah. Oleh karena itu, konversi lahan pertanian juga merupakan fenomena alamiah yang mustahil untuk dicegah. (www.balai_tanah.litbang.deptan.go.id).
B.     Penelitian yang Relevan
Arifatun Nisa (1998) telah mengadakan penelitian di daerah Jaten dengan jidul STUDI TENTANG HUBUNGAN ANTARA PERTUMBUHAN PENDUDUK DENGAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN JATEN KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN 1985 – 1995, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pertumbuhan penduduk dengan perubahan penggunaan lahan di kecamatan Jaten.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi, wawancara, dan observasi lapangan. Sumber data berupa data primer dan data sekunder, sedangkan jenis data berupa data penduduk, data penggunaan lahan, dan data kondisi geografi. Teknik analisis data dilakukan dengan pemetaan pengguaan lahan, menghitung luas penggunan lahan, pemetaan perubahan penggunaan lahan, pembuatan tabel neraca penggunaan lahan, menghitung pertumbuhan penduduk dan menghubungkan dengan perubahan penggunaan lahan.
Hasil akhir dari penelitian yang dilakukan oleh Arifatun Nisa adalah peta perubahan penggunaan lahan Kecamatan Jaten Tahun 1985 - 1995 skala 1 : 50.000, informasi perubahan pennggunaan lahan dan jenis perubahannya. Kesimpulan dari penelitian Arifatun Nisa adalah Kecamatan Jaten mengalami perubahan penggunaan lahan pertanian ke non pertanian yaitu seluas 232 hektar (9,06 %) pada tahun 1985 sampai tahun 1995. Perubahan penggunaan lahan yang terluas adalah pada sektor industri yaitu seluas 126,5 hektar dan perubahan  penggunaan lahan yang terbesar terdapat di Desa Jetis seluas 57,5 hektar. Pertumbuhan penduduk dari tahun 1985 sampai 1995 mencapai 2,01 %, tingkat pertumbuhan penduduk yang terbesar terdapat di Desa Jaten yaitu sebesar 9,03 %.
Zuroh Tegawati melakukan penelitian yang berjudul “PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN WILAYAH PESISIR KECAMATAN PANARUKAN KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 1993 - 2005”. Tujuan penelitian Zuroh Tegawati untuk mengetahui agihan dan luasan perubahan penggunaan lahan wilayah pesisir Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo tahun 1993-2005, mengetahui apakah tingkat aksesibilitas (panjang jalan dan kualitas jalan) dan pertambahan penduduk mempengaruhi perubahan penggunaan lahan wilayah pesisir Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Analisis data dengan interpretasi foto udara untuk mengetahui agihan dan luas perubahan penggunaan lahan, kemudian dilakukan cek lapangan. Untuk mengetahui hubungan tingkat aksessibilitas dan
pertumbuhan penduduk dengan perubahan penggunaan lahan digunakan analisis korelasi.
Hasil akhir penelitian Tegawati adalah peta penggunaan lahan skala 1 : 65.000. Kesimpulan dari penelitian Zuroh Tegawati adalah selama kurun waktu 12 tahun telah terjadi perubahan penggunaan lahan di seluruh wilayah pesisir Kecamatan Panarukan dengan total perubahan 266,51 Ha, tingkat aksesibilitas (panjang jalan dan kualitas jalan) mempengaruhi perubahan pengunaan lahan di daerah penelitian, melalui uji statistik pertambahan penduduk dengan perubahan penggunaan lahan diperoleh nilai r = - 0,19, ini menunjukkan hubungan yang sangat lemah dan bersifat negatif.
C.    Kerangka berfikir
Pertumbuhan dan perkembangan suatu daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam maupun dari luar daerah. Pemekaran Kota Surakarta semakin meluas ke daerah sekitarnya atau ke pinggiran kota. Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan ekonomi Kota Surakarta yang semakin meningkat. Keadaan ini akan memicu berdirinya sektor-sektor usaha baru, dengan demikian akan terbuka lapangan pekerjaan baru yang akan menarik minat pencari kerja yang berasal dari luar kota. Hal ini akan berpengaruh tehadap peningkatan kepadatan penduduk dan kebutuhan manusia yang juga akan semakin kompleks. Pertumbuhan penduduk yang tinggi di Kota Surakarta mengakibatkan terjadinya tekanan penduduk terhadap lahan. Semakin sempitnya lahan yang tersedia di dalam kota menyebabkan terjadinya pemekaran fisik kota ke daerah pinggiran.
Kota sebagai perwujudan geografis selalu mengalami perubahan baik aspek fisik maupun non fisik. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap perubahan-perubahan tersebut, diantaranya adalah faktor penduduk (demografis). Faktor kependudukan yang paling penting adalah segi kuantitasnya. Perubahan jumlah penduduk suatu kota  ditentukan oleh pertambahan alami dan migrasi.
Lahan sebagai bagian dari ruang pada dasarnya mempunyai luasan yang tetap. Manusia tidak dapat melakukan perubahan terhadap luasan lahan yang telah ada, akan tetapi dapat melakukan perubahan terhadap penggunaan lahan tersebut. Di sisi lain jumlah manusia sebagai pengguna lahan dari waktu ke waktu akan terus mengalami peningkatan. Peningkatan ini akan diikuti dengan semakin banyaknya aktifitas yang menggunakan lahan sebagai media dalam melakukan kegiatan tersebut. Kenyataan yang terjadi adalah kebutuhan akan lahan semakin mendesak akan tetapi persediaan akan lahan itu sendiri semakin sedikit. Dengan demikian lahan akan menjadi sangat penting artinya bagi kehidupan manusia dan dalam penggunaannya sangat rentan menimbulkan suatu konflik. Lahan perkotaan menjadi prioritas utama bagi sebagian besar masyarakat untuk menunjang kegiatan dan kelangsungan hidupnya. Perkotaan dengan segala fasilitasnya dirasa akan dapat memberikan keuntungan dan kemudahan sehingga menarik orang untuk dapat menempati dan menguasai lahan perkotaan. Kebutuhan akan lahan ini juga didorong oleh pertumbuhan penduduk kota yang terdiri dari penduduk alami dan migrasi yang terus bertambah. Permasalahan akan timbul jika lahan perkotaan yang semakin sempit bahkan tidak mampu lagi menampung semua kegiatan yang ada. Keadaan itu akan memicu perubahan penggunaan lahan di daerah pinggiran kota dengan berbagai pertimbangan tertentu.
Proses berekspansi manusia yang disertai dengan barang dan ide tersebut akan mengubah struktur tata guna lahan yang sebagian besar dipengaruhi oleh adanya daya sentrifugal dan daya sentripetal. Kedua daya tersebut akan menghasilkan pola-pola perubahan tataguna lahan di dalam suatu kawasan perkotaan. Daya sentrifugal ini mendorong penduduk di sutu kota untuk keluar dari kota tersebut. ebaliknya daya sentripetal menarik atau menyedot penduduk memasuki kota sampai ke pusatnya demi terwujudnya kebutuhan yang diperlukan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah. Secara astronomis Kabupaten Sukoharjo terletak pada 7º 32’ 17.00” sampai dengan 7º 49’ 32.00” Lintang Selatan dan 110º 57’ 33.70” sampai dengan 110º 42’ 06.79” Bujur Timur.
2.      Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah mulai awal bulan Desember 2015 sampai dengan akhir bulan Desember 2015. Waktu yang diperlukan dalam penelitian ini selama 20 hari.

B.     Rancangan Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk dapat menerangkan lebih lanjut mengenai pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perubahan penggunaan lahan pertanian dengan mendeskripsikan kondisi pada daerah penelitian pada saat ini. Pada akhirnya dapat diketahui daerah yang mempunyai hubungan yang wajar dan tidak wajar antara pertumbuhan penduduk dan perubahan penggunaan lahan pertanian. Penelitian ini menggunakan data sekunder sebagai data yang utama untuk memperoleh informasi pertumbuhan penduduk dan perubahan penggunaan lahan.

C.    Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah penduduk propinsi Jawa Tengah dan lahan pertanian Provinsi Jawa Tengah. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah jumlah penduduk kabupaten Skoharjo dan lahan pertanian Kabupaten Sukoharjo. luas wilayah Kabupaten Sukoharjo seluruhnya sekitar 46.666 Ha atau 466, 66 km² sekitar 1,43% luas wilayah Provinsi Jawa Tengah.
D.    Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah secara random. Dari semua kapupaten di provinsi Jawa Tengah diambil secara acak.

E.     Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder sebagai sumber data utamanya. Data sekunder yang dibutuhkan diperoleh dari beberapa instansi yang berhubungan dengan penelitian ini. Sebagai upaya untuk mengumpulkan data-data dari berbagai sumber data di atas, penulis menggunakan teknik pengumpulan data yaitu teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi merupakan cara pengumpulan data dengan jalan menelaah dokumen-dokumen dan arsip-arsip yang relevan dengan obyek penelitian dan yang sedang dikaji. Teknik ini digunakan untuk memperoleh fakta yang telah di catat menjadi dokumen.

F.     Analisis Data
1.      Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk Kabupaten Sukoharjo dihitung dengan menggunakan rumus pertumbuhan penduduk eksponensial :
Pn = Pn = Po . e rt
Pn = Jumlah penduduk pada tahun “n”
Po = Jumlah penduduk pada tahun awal
r = rate pertumbuhan penduduk
n = periode waktu dalam tahun
e = bilangan pokok dari sistem logaritma natural yang besarnya adalah 2, 7182818 log e = 0. 4343
2.      Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian
Peta Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian diperlukan untuk memperoleh informasi secara visual bentuk perubahan yang telah terjadi meliputi luas, bentuk dan sebaran perubahan penggunaan lahan pertanian ke non pertanian.



3.      Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Perubahan lahan Pertanian
Setelah mengetahui luas dan prosentase perubahan penggunaan lahan, selanjutnya adalah menghubungkannya dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan penduduk dan perubahan penggunaan lahan digunakan analisis korelasi dan regresi linier. Rumus tersebut adalah sebagai berikut :
Korelasi
Keterangan :
rxy = koefisien korelasi antara X dan Y
X = variabel bebas (pertumbuhan penduduk)
Y = variabel tak bebas (perubahan penggunaan lahan)
n = jumlah desa

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Daerah Penelitian
1.      Letak
a.       Letak astronomis
Kabupaten Sukoharjo secara astronomis terletak:
1)      Bagian Ujung Sebelah Timur : 110º 57’ 33.70” BT
2)      Bagian Ujung Sebelah Barat   : 110º 42’ 06.79” BT
3)      Bagian Ujung Sebelah Utara : 7º 32’ 17.00” LS
4)      Bagian Ujung Sebelah Selatan : 7º 49’ 32.00” LS
b.      Letak administratif
Secara administratif Kabupaten Sukoharjo,Propinsi Jawa Tengah berbatasan dengan beberapa daerah disekitarnya, yaitu :
Batas wilayah Kabupaten Sukoharjo secara administratif adalah
sebagai berikut :
1)      Sebelah Utara              : Kota Surakarta dan Kabupaten Karanganyar
2)      Sebelah Timur             : Kabupaten Karanganyar
3)      Sebelah Selatan           : Kabupaten Gunung kidul (DIY) dan Kabupaten       Wonogiri.
4)      Sebelah Barat              : Kabuparten Boyolali dan Kabupaten Klaten
Secara administrasi Kabupaten Sukoharjo terbagi menjadi 12 Kecamatan yang tersebar dari 150 Desa dan 17 Kelurahan, 2.026 dukuh, 1.438 RW dan 4.428 RT. dengan ibu kota yang terletak di Kecamatan Sukoharjo, yang berjarak 12 km dari Kota Surakarta.
1.      Luas
Kabupaten Sukoharjo memiliki luas wilayah keseluruhan sebesar 46.666 Ha atau sekitar 1,43% luas wilayah Propinsi Jawa Tengah.
1.      Kondisi Fisik Dasar
a.       Geomorfologi
Kabupaten Sukoharjo berada pada ketinggian wilayah antara 125 – 80 dpal. Tempat tertinggi di atas permukaan air laut adalah Kecamatan Polokarto yaitu 125 m dpal, dan yang terendah adalah Kecamatan Grogol yaitu 80 m dpal.
Berdasarkan relief, Kabupaten Sukoharjo dapat dikelompokkan menjadi dua kelompol yaitu daerah datar meliputi Kecamatan Kartasura, baki, Gatak, Grogol, Sukoharjo, dan Mojolaban, sedangkan daerah yang miring meliputi Kecamatan Polokarto, Bendosari, Nguter, Bulu dan Weru.
a.       Iklim
Pada tahun 2009 curah hujan di Kabupaten Sukoharjo lebih rendah dari tahun sebelumnya. Tercatat rata-rata curah hujan sebesar 1.823 mm dan hari hujan hanya 96 hari. Adapun curah hujan yang terbanyak pada tahun 2009 yaitu di Kecamatan Bendosari tercatat 2.288 mm, sedangkan yang terendah yaitu di Kecamatan Mojolaban yaitu sebesar 1.294 mm.
a.       Tanah
Kabupaten Sukoharjo memiliki komposisi jenis tanah sebagai berikut :
1)      Tanah Alluvial
Tanah ini berkembang dari endapan muda atau baru. Jenis tanah ini memiliki sifat fisik yaitu tekstur lempung, drainase jelek, sering tergenang air, berwarna kelabu dan coklat tua.
2)      Tanah Grumusol
Tanah ini mempunyai warna kelabu dan tekstur lempung, sehingga pada musim kemarau mengalami retakan datau retak-retak. Agihan jenis ini pada dataran banjir lama dengan penggunaan lahan untuk persawahan dan pemukiman.
3)      Tanah Latosol
Tanah ini mempunyai struktur remah sampai gumpal, stabilitas agregat tanah rendah. Di daerah penelitian yang berupa dataran memiliki drainase jelek dan permeabilitas jelek karena sering tergenang. Penggunaan pada jenis ini untuk lahan sawah.
b.      Hidrologi
Sumber daya air di Kabupaten Sukoharjo diambil dari air permukaan, air tanah dan mata air. Sumber air tersebut telah dimanfaatkan dan dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan air untuk minum/masak dan air bersih untuk rumah tangga, fasilitas komersial dan industri serta dimanfaatkan untuk irigasi pertanian.
Penggunaan air permukaan untuk irigasi pertanian yang ada mampu mengairi sawah baik yang setahun dua kali panen seluas 17.178 Ha maupun yang setahun sekali panen seluas 4.559 Ha dengan prasarana yang ada yaitu saluran irigasi. Jaringan irigasi diwilayah Kabupaten Sukoharjo merupakan bagian dari jaringan irigasi Wonogiri yang bersumber dari waduk Gajah Mungkur Wonogiri, mengalir melalui Bendung Colo.
1.      Tata Ruang
Kabupaten Sukoharjo merupakan wilayah yang dapat dikategorikan sebagai wilayah peri urban. Menurut Yunus (2008), wilayah peri urban adalah wilayah yang berada diantara wilayah yang bersifat kekotaan sepenuhnya (the real urban region) dan wilayah yang bersifat kedesaan sepenuhnya (the real rural region). Diantara “the real urban land” dan “the real rural land” inilah wilayah peri urban berada yang di dalamnya terdapat percampuran bentuk pemanfaatan lahan kekotaan di satu sisi dan bentuk pemanfaatan lahan agraris di sisi lain.
2.      Komposisi Penduduk
a.       Komposisi penduduk menurut kelompok umur
Jumlah penduduk laki-laki maupun perempuan terkonsentrasi pada usia 20-39 tahun yaitu 129.773 jiwa untuk laki-laki dan 137.72 jiwa untuk perempuan. Ini menunjukan bahwa usia penduduk produktif lebih besar dari pada usia non produktif. Hal ini mengindikasikan besarnya modal sumber daya manusia bagi Kabupaten Sukoharjo dalam pelaksanaan pembangunan daerah cukup besar.
a.       Pola migrasi
Pola migrasi di Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2010 bervariasi untuk masing-masing kecamatan. Untuk wilayah kecamatan yang berada di daerah perkotaan jumlah orang yang datang lebih besar dibandingkan dengan orang yang pindah antara lain di Kecamatan Kartasura, Grogol dan Sukoharjo. Sedangkan untuk wilayah kecamatan yang berada di daerah pedesaan anta lain Kecamatan Weru, Tawangsari dan Polokarto adalah sebaliknya. Hal ini berkaitan dengan mata pencaharian dimana di daerah perkotaan merupakan pusat kegiatan ekonomi meliputi sektor industri, perdagangan dan perkantoran.
1.      Sosial Ekonomi
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita merupakan indikator yang dapat melihat keberhasilan pembangunan sekaligus tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum. PDRB per kapita merupakan nilai rata-rata dari pembagian antara PDRB dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun.
Perkembangan PDRB per kapita Kabupaten Sukoharjo, atas dasar harga berlaku pada tahun 2008 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2007 yang didominasi oleh Industri Pengolahan, dimana pada tahun 2008 mengalami peningkatan 29,53 %. Urutan kedua yaitu Perdagangan, Hotel dan Restoran yang mengalami peningkatan sebesar 29,53%, dan urutan ketiga yaitu di sektor Pertanian yang pada tahun 2008 mengalami peningkata sebesar 15,30 %.
Demikian juga PDRB per kapita Kabupaten Sukoharjo atas dasar harga konstan untuk tahun 2008 juga mengalami peningkatan dibanding tahun 2007. Untuk Industri Pengolahan tahun 2008 mengalami peningkatan 26,74%. Perdagangan, Hotel dan Restoran yang mengalami peningkatan sebesar 27,29%, dan sector Pertanian yang pada tahun 2008 mengalami peningkata sebesar 20,80%.
Besar kecilnya pendapatan daerah mencerminkan kemandirian suatu wilayah dalam membiayai pelaksanaan pembangunan di daerahnya. Pendapatan daerah terdiri dari pendapatan asli daerah dan pendapatan yang berasal dari dana perimbangan. Sedangkan komponen Belanja terdiri dari belanja aparatur, adminitrasi umum, pegawai/personalia, belanja barang dan jasa, belanja perjalanan dinas, belanja operasi dan pemeliharaan serta belanja modal dan pelayanan publik.
Total pendapatan daerah Kabupaten Sukoharjo tahun 2010 mencapai Rp 788.669.206.00,00. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sukoharjo hanya sebesar Rp 63.065.320.000,00. Sementara itu, belanja daerah Kabupaten Sukoharjo sebesar Rp 854.110.331.744,00. Belanja daerah paling banyak digunakan untuk belanja tidak langsung (belanja aparatur negara). Yaitu sebesar Rp 616.710.713.744,00. Dana Alokasi Umum (DAU) di Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2010 mencapai Rp. 516.588.118.000,00 sedangkan Dana Alokasi Khusus hanya sebesar Rp 49.452.900.000,00.
A.    Deskripsi Data
1.      Jumlah Penduduk
Penduduk Kabupaten Sukoharjo pada akhir tahun 2010 mencapai 846.978 jiwa meningkat dari tahun 2009 sebanyak 843.127 jiwa. Sebaran penduduk antar kecamatan bervariasi dimana kecamatan dengan jumlah penduduk paling besar adalah Kecamatan Grogol dengan jumlah penduduk 104.055 jiwa dan paling sedikit Kecamatan Bulu 51.418 jiwa.
1.      Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk di Kabupaten Sukoharjo pada akhir tahun 2010 mencapai 1.815 jiwa/km2. Dengan tingkat kepadatan penduduk paling tinggi berada di Kecamatan Kartasura sebesar 4.792 jiwa/km2, sedangkan kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan Bulu sebesar 1.172 jiwa/km2.
1.      Penggunaan Lahan
Kabupaten Sukoharjo yang memiliki luas wilayah sebesar 46.666 Ha dengan tata guna lahan yang terdiri dari lahan sawah seluas 21.257 Ha atau 45,24 % dan lahan bukan sawah seluas 25.409 Ha atau 54,74 %. Adapun pola penggunaan lahanya dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Lahan sawah : 21.257 Ha atau 45,55%.
b.      Lahan bukan sawah : 25.409 Ha atau 54,45%, terdiri dari :
1)      Pekarangan : 16.099 Ha
2)      Tegal/kebun : 4.599 Ha
3)      Hutan Rakyat : 904 Ha
4)      Hutan Negara : 390 Ha
5)      Tambak/kolam/empang : 36 Ha
6)      PBS/PBN : 708 Ha
7)      Lain-lain : 2.673 Ha
Sumber : Sukoharjo Dalam Angka, 2010
Dari lahan sawah yang beririgrasi teknis seluas 14.900 Ha (70,09%), irigasi setengah teknis 1.902 Ha ( 8,95%), irigasi sederhana 2.021 Ha (9,51%) dan tadah hujan seluas 2.434 Ha (11,45%). sebagian lagi berupa sawah tadah hujan (33,82%) dan sisanya (11,25%) merupakan sawah beririgrasi setengah teknis dan sederhana.
Lahan bukan sawah digunakan untuk Pekarangan seluas 16.099 Ha (63,36%), tegalan dan kebun seluas 4.599 Ha (18,10%), Hutan rakyat seluas 904 Ha (3,56%), Tambak /Kolam/Empang seluas 36 Ha (0,14%), hutan Negara seluas 390 Ha (1,53%), untuk PBS/PBN 708 Ha (2,79%), dan lain-lainnya seluas 2.673 Ha (10,52%).
A.    Pembahasan Hasil Analisis Data
1.      Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh angka kelahiran, angka kematian dan migrasi penduduk. Pertumbuhan penduduk rata-rata Kabupaten Sukoharjo sampai akhir tahun 2010 mencapai 0,46 % mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar 0,70 %. Tingkat pertumbuhan penduduk yang paling besar terdapat di Kecamatan Kartasura yaitu sebesar 1,18 %, sedangkan tingkat pertumbuhan penduduk paling rendah bahkan mencapai minus terdapat di Kecamatan Bulu sebesar –0,47 %.

Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian
Perubahan jenis penggunaan lahan dikategorikan menjadi dua, yaitu perubahan yang bersifat bertambah dan perubahan yang bersifat berkurang. Jenis penggunaan lahan yang bertambah luas antara lain kebun campur (4.586 Ha), sawah tadah hujan (2.009 Ha), dan gedung (3.335 Ha), sedangkan jenis penggunaan lahan yang berkurang adalah pemukiman (715 Ha), sawah irigasi (5.385 Ha), tegalan (134 Ha), tubuh air (1.695 Ha), dan hutan (767 Ha).
Pola perubahan jenis penggunaan lahan yang paling banyak terjadi adalah perubahan jenis penggunaan lahan kebun campur menjadi pemukiman, sawah irigasi, sawah tadah hujan, tegalan, dan hutan. Hal ini seperti yang terjadi di Kecamatan Grogol dan Kecamatan Weru.
Tahun 2000 luasan terbesar adalah penggunaan lahan sawah irigasi yakni sebesar 18 persen atau seluas 8.601 Ha. Luasan yang paling kecil adalah luas penggunaan lahan kebun campur, yakni sebesar 6 persen atau sebesar 2.887 Ha. Pada tahun 2013, luas penggunaan lahan sawah irigasi berkurang menjadi sebesar 3.216 Ha atau berkurang sebesar 5.385 Ha. Luas penggunaan lahan terbesar di tahun 2013 adalah penggunaan lahan sawah tadah hujan, yakni sebesar 8.608 Ha atau 18 persen. Adapun penggunaan lahan terkecil adalah sawah irigasi, yakni sebesar 7 persen atau 3.216 Ha.
Luas lahan yang berkurang paling besar adalah penggunaan lahan sawah irigasi yaitu sebesar 5.835 Ha. Luas lahan yang berkurang paling kecil adalah penggunaan lahan tegalan sebesar 134 Ha. Luas lahan yang bertambah paling besar yaitu penggunaan lahan kebun campur sebesar 4.586 Ha, sedangkan luas lahan yang bertambah paling kecil adalah sawah tadah hujan sebesar 2.009 Ha. Untuk melihat penggunaan lahan pada tahun 2000 dan 2013 disajikan melalui peta penggunaan lahan tahun 2000 dan 2013.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A.    Simpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Pertumbuhan penduduk eksponensial Kabupaten Sukoharjo tahun 2000-2013 adalah sebesar 0,7 persen. Dengan demikian, prediksi jumlah penduduk di Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2020 adalah 907.067 jiwa.
2.      Perubahan jenis penggunaan lahan yang paling banyak terjadi adalah jenis penggunaan lahan kebun campur menjadi pemukiman, sawah irigasi, sawah tadah hujan, tegalan, dan hutan. Hal ini seperti yang terjadi di Kecamatan Grogol dan Kecamatan Weru.
3.      Terdapat hubungan yang sangat lemah antara pertumbuhan penduduk dengan alih fungsi lahan di Kabupaten Sukoharjo. Adapun kontribusi yang diberikan oleh laju pertumbuhan penduduk terhadap perubahan luas alih fungsi lahan hanya sebesar 0,6%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selain faktor laju pertumbuhan penduduk, terdapat faktor-faktor lain yang memengaruhi perubahan luas alih fungsi lahan di Kabupaten Sukoharjo, seperti faktor pertumbuhan ekonomi Kota Surakarta.

B.     Saran
Adanya berbagai kekurangan dari hasil pelaksanaan penelitian ini, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:
1.      Pemerintah harus lebih tegas dalam memberikan izin mendirikan bangunan (IMB), apalagi pendirian suatu industri, pabrik atau usaha padat karya lainnya yang sesuai dengan pertimbangan tata letak ruang khususnya di atas lahan pertanian. Hal ini tujuannya adalah agar Kabupaten Sukoharjo terus mampu memberikan kontribusi dari lahan pertanian bagi masyarakat di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu juga agar mampu menjaga ekosistem alam dan tetap menjaga kesuburan tanah dan terjauh dari limbah industri.
2.      Pemerintah perlu mengembangkan dan memberikan penyuluhan kepada para petani yang ada di Kabupaten Sukoharjo untuk melakukan diversifikasi lahan pertanian sebagai upaya untuk mengoptimalkan lahan dan hasil pertanian yang semakin lama semakin menurun luasnya.
Adanya keterbatasan waktu dan sumber data dalam penelitian ini, sehingga diharapkan pada penelitian selanjutnya data tahunan yang digunakan bisa lebih banyak dan bisa memasukkan variabel-variabel yang lebih kompleks serta bisa menganalisis lebih jauh terhadap alih fungsi lahan di Kabupaten Sukoharjo, terutama mengenai dampak pertumbuhan ekonomi Kota Surakarta.

DAFTAR PUSTAKA
BPS. 2000-2014. Sukoharjo Dalam Angka Tahun 2000-2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo.
Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo tahun 2010
Mantra, Ida Bagoes. 2009. Demografi Umum. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Pemerintah Kabupaten Sukoharjo. 2013. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo Tahun 2012. Sukoharjo : Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.
Sutanta. 2010. Faktor-Faktor Tidak Berkembangnya Kawasan Industri Nguter Kabupaten Sukoharjo. Tesis. Program Pascasarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota UNDIP Semarang.
www.balai_tanah.litbang.deptan.go.id. Diunduh pada tanggal 20 Desember 2015