Senin, 23 Desember 2013

Ciri, Potensi dan Pola Permukiman Desa


UK 3
GEOGRAFI DESA

Dosen pengampu: Drs. Wakino, M.S

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Geografi Desa

Disusun oleh:
Nama        : Ana Pangesti
NIM          : K5412008
Prodi         : Pendidikan geografi



JURUSAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN  ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
TAHUN 2013

1.      Ciri masyarakat desa diantaranya adalah kehidupan masyarakt yang bergantung atau berorientasi pada alam dan struktur perekonomian yang bersifat agraris. Berikut penjelasan dari kedua ciri tersebut:
a.      kehidupan yang tergantung pada alam       
Desa berhubungan erat dengan alam, ini disebabkan oleh lokasi geografis di daerah desa petani, realitas alam ini sangat vital menunjang kehidupannya. Kepercayaan kepercayaan dan hukum-hukum alam seperti dalam pola berfikir dan falsafah hidupnya menentukan.
Masyarakat desa dalam kehidupan sehari-harinya menggantungkan pada alam. Alam merupakan segalanya bagi penduduk desa, karena alam memberikan apa yang dibutuhkan manusia bagi kehidupannya. Mereka mengolah alam dengan peralatan yang sederhana untuk dipetik hasilnya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alam juga digunakan untuk tempat tinggal.
b.      Struktur perekonomian bersifat agraris
Desa memilki ciri salah sattunya yaitu struktur desa bersifat agraris atau berorientasi pada sektor pertanian.  Seperti diketahui masyarakat pedesaan sering diidentikkan sebagai masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang kegiatan ekonominya terpusat pada pertanian. Sektor ini belum bisa melahirkan bermacam pekerjaan, untuk itu mereka tidak bisa mengandalkan pendapatan dari hasil pertanian.
Pembangunan di desa menitikberatkan pada sektor ekonomi khususnya ekonomi pertanian dengan tujuan meningkatkan produksi pertanian dan perekonomian masyarakat sekaligus peningkatan pembangunan desa dalam bidang kependudukan ditekankan sekecil mungkin angka kelahiran dengan keluarga berencana. Pembangunan pedesaan dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya. Pembangunan pedesaan mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat pedesaan yang terdiri dari berbagai sektor serta program yang saling berkaitan. Pembangunan tersebut dilakukan oleh masyarakat dengan bimbingan dan bantuan dari pemerintah melalui departemen dengan aparatnya di daerah. Selanjutnya pembangunan pedesaan dilakukan untuk meletakkan dasar pembangunan nasional yang sehat dan kuat. Pedesaan merupakan landasan ekonomi, politik budaya, serta pertahanan dan keamanan.
2.      Salah satu potensi desa adalah potensi non fisik desa. Potensi non fisik desa meliputi masyarakat desa, lembaga-lembaga sosial, aparatur dan pamong desa. Berikut penjelasan masing-masing potensi non fisik desa:
a.  Masyarakat desa
Masyarakat desa adalah kelompok sosial dengan hubungan yang erat dengan tingkat solidaritas yang tinggi. Masyarakat desa cirinya memiliki semangat kegotongroyongan yang tinggi dalam  ikatan kekeluargaan yang erat (gemeinschaft) merupakan landasan yang kokoh bagi kelangsungan program pembangunan.
b.    Lembag-lembaga sosial,pendidikan,serta organisasi sosial desa.
Lembaga-lembaga tersebut banyak memberikan pembinaan dan arah bagi perkembangan dan pelaksanaan pembangunan desa dalam meningkatkan taraf hidup warganya.lembaga-lembaga sosial yang terdapat di desa,antara lain yaitu lembaga:
Ø  Pemerintahan, seperti Badan Perwakilan Desa (BPD).
Ø  Pendidikan, seperti perpustakaan desa, kelompencapir, penyuluhan, simulasi,dan lain-lain.
Ø  Kesehatan, seperti puskesmas, posyandu, dan BKIA.
Ø  Ekonomi, seperti Koperasi Unit Desa (KUD) dan lumbung desa.
c.       Aparatur dan Pamong Desa
Aparatur dan Pamong Desa merupakan sarana pendukung kelancaran dan ketertiban pemerintahan desa.perannannya sangat penting bagi perubahan dan tingkat perkembangan desa. Aparatur dan Pamong Desa memiliki tugas untuk menjaga kelancaran administrasi desa dan menggerakkan sdm desa. Contoh : kepada desa / kades, lurah, kepala adat, kepala dusun, dan lain-lain.
3.      Di daratan pantai selatan Jawa Tengah dijumpai pola persebaran permukiman sejajar dan memanjang mengikuti garis pantai. jelaskan mengapa terjadi pola tsb? terkait proses pembentukan lahan Beachridge.
Beach ridge adalah tebing pantai yang berupa gundukan pasir atau puing batu karang di sekitar pantai cliff (pantai curam). Beach ridge  menggambarkan kedudukan yang dicapai dari majunya garis pantai. Tekanan-tekanan atau depression yang terjadi antara bukit-bukit atau ridges dikenal sebagai Swales, Slashes or furrows. Ridges dan swales dapat terjadi pada sembarang pantai.
Ada tiga cara terbentuknya Beach Ridges ini, yaitu:
a)      Menurut Gilbert, bahan-bahan dari pasir yang dihanyutkan oleh arus dilemparkan oleh gelombang dari arah laut pada sisi-sisi dari beach. Adanya bukit-bukit itu menunjukkan adanya angin ribut yang luar biasa.
b)      Menurut Beaumont  dan Davis; materi-materi itu dihanyutkan dari dasar laut, di mana dasar laut telah diperdalam; kemudian ridges itu lebih banyak tergantung pada kekuatan dan keaktifan gelombang.
c)      Sederetan bukit-bukit dapat terbentuk pada ujung dari sebuah Compound recurved spit oleh tambahan dari spit yang berhasil berkembang ke samping , arah ke laut.
Tetapi Johnson mempertahankan bahwa Beach Ridge tidaklah selalu dapat dikorelasikan dengan individu angin badai. Beach Ridge lebih banyak berfluktuasi dalam jumlah pasir yang dibawa oleh long shore current; yang harus diperiksa adalah ada tidaknya erosi gelombang pada tempat-tempat yang lain. Di mana terdapat persediaan materi yang berlimpah, beach ridge dapat bertambah dengan cepat, terutama pada ujung Recurved spit. Dalam 23 tahun, ada 5 (lima) ridges terbentuk pada ujung dari Rockway Beach, dekat New York City. Ujung spit bertambah kurang lebih 200 kaki dalam setahun.
Pada dataran pantai selatan Jawa Tengah dijumpai pola persebaran yang sejajar dan memanjang mengikuti garis pantai. Perhatikan gambar peta berikut ini!

              Gambar. Pola permukiman sejajar dan memanjang garis pantai selatan Jawa Tengah
Pola permukiman pada dataran pantai selatan Jawa Tengah memiliki pola sejajar dan memanjang garis pantai seperti yag terlihat pada gambar diatas. Hal ini disebabkan terjadinya beach ridge di pantai selatan Jawa Tengah, dimana garis pantai selatan Jawa Tengah mengalami kemajuan sehingga mendekati permukiman penduduk.
Gambar peta diatas diambil dari google earth yaitu salah satu contoh kawasan permukiman yang memiliki pola sejajar dan memanjang garis pantai yaitu daerah selatan Kebumen.
Pada pantai selatan Jawa Tengah terbentuk beach ridge karena  terdapat persediaan materi yang berlimpah, sehingga beach ridge dapat bertambah dengan cepat.

4.      Apakah keuntungan dan kerugian dari pola permukiman masya desa yang tergolong "farm village type" desa pertanian? jelaskan dengan logika sederhana. (pola permukiman mengelompok akan tetapi menjual hasil pertaniannya di lain tempat)

Farm village type adalah pola pemukiman dimana penduduk tinggal bersama-sama dan berdekatan di suatu tempat dengan lahan pertanian berada di luar lokasi pemukiman. Farm village type merupakan pola pemukiman yang paling dominan di dunia. menurut paul h. landis, pola pemukiman ini dengan beberapa perkecualian merupakan kecenderungan umum di timur / asia. the farm village type ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan dua pola pemukiman lainnya, antara lain: memungkinkan terjadinya hubungan yang intim antara warga/tetangga, kedekatan warga dengan berbagai lembaga, kedekatan teman bermain bagi anak-anak , memudahkan terjadinya saling tolong-menolong atau kerja sama antara sesama warga. singkatnya, pola pemukiman ini kaya akan kehudupan sosial.
The farm village type  adalah pola permukiman dimana penduduk (petani) tinggal bersama-sama dan berdekatan di suatu tempat dengan lahan pertanian berada di luer lokasi permukiman. Pola ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan dua pola lainnya, antara lain: memungkinkan terjadinya hubungan yang intim antar warga/tetangga, kedekatan dengan berbagai lembaga, kedekatan teman bermain bagi anak-anak, memudahkan terjadinya saling tolong-menolong atau keja sama antara sesama warga. Secara skematis pola permukiman ini digambarkan sebagai berikut :
1)      The farm village type  memiliki keuntungan dan kerugian diantaranya:
 Keuntungan The farm village type, antara lain:
a.       Memudahkan untuk saling tolong menolong.
b.      Kerja sama dalam menanggulangi bahaya atau berbagai bentuk kesulitan lainnya.
c.       Memupuk kerukunan yang tinggi dan sekaligus menghilangkan gejala individualisme ekstrim.
2)      Kerugian The farm village type, antara lain:
a.       Pola permukiman ini kurang menguntungkan jika dilihat dari segi tujuan ekonomis.
b.      Lahan pertanian yang jauh dari permukiman umumnya cenderung terpecah-pecah (fragmentaristik).
c.       Dilihat dari segi teknis pola ini menyulitkan dan terkadang bahkan tidak memungkinkan untuk penerapan system dan teknologi modern.
d.      Tempat tinggal yang berdekatan. Hubungan yang intim antar warga, menyebabkan perubahan serta pembaharuan menjadi sulit untuk dilaksanakan.
e.       Mudahnya saling tolong menolong antar sesama warga lemahnya jiwa mandiri (self-help).
f.       Penularan dengan cepat penyakit menular (epidemi).

DAFTAR PUSTAKA

Yayat.2011.Abrasi dan Sedimentasi Pantai.http://dhayatgeo.blogspot.com/2011/12/abrasi-dan-sedimetasi-pantai.html. diakses pada tanggal 15 Desember 2013

Anonim. 2012. Aspek-Aspek Struktural Masyarakat Desa.  http://2frameit.blogspot.com/2012/07/aspek-aspek-struktural-masyarakat-desa.html. diakses pada tanggal 15 Desember 2013

Sugama, Yoga. 2010. Struktur Fisik dan Pola Pemukiman. http://yogasugamaobamaindonesia.blogspot.com/2010/11/struktur-fisik-dan-pola-pemukiman.html. diakses pada tanggal 14 Desember 2013


Rabu, 11 Desember 2013

Guru Baik, Efektif dan Profesional


(merangkum dari beberapa jurnal internasional)
Guru yang baik dapat didefinisikan sebagai guru yang membantu siswa untuk belajar. Guru mempunyai cara yang berbeda-beda dalam membantu siswa untuk belajar. Cara tersebut dikenal dengan strategi. Strategi yang yang berpusat pada guru lebih berfokus sebagai penyampai informasi. Sedangkan strategi yang berpusat pada siswa lebih kepada perubahan dalam belajar siswa untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan dengan cara yang efektif.
Peran guru yang baik adalah guru yang ikut terlibat berkontribusi terhadap perkembangan yang terjadi pada pendidikan. Secara umum peran guru bertanggung jawab atas rincian perencanaan kurikulum, isi program pengajaran dan strategi pendidikan.
Tugas guru yang utama adalah sebagai penyampai informasi, namun tidak kalah penting selain sebagai penyampai informasi guru hendaknya berperan sebagai panutan terkhusus bagi siswanya, sebagai fasilitator, sebagaai penilai, sebagai perencana dan sebagai pengembang sumber daya.
Seorang guru dapat dikatakan sebagai guru yang efektif apabila guru tersebut mempunyai kualitas. Kualitas guru mencangkup aspek afektif, perilaku dan kognitif. Guru yang berkualitas akan mampu memberikan pengaruh positif atau berkualitas pada siswa.
Total efektivitas guru melibatkan guru dan siswa. Efektifitas guru harus melibatkan aspek perilaku, afektif dan kognitif dari semua guru dan siswa. Dalam proses belajar mengajar melibakan kompetensi guru, kinerja guru, pengalaman siswa dan hasil belajar siswa. Kompetensi guru meliputi kompetensi perilaku, afektif dan kognitif. Kinerja guru adalah kinerja total guru yang merupakan kualitas dinamis guru dalam proses pengajaran. Kualitas kinerja guru berhubungan secara positif dengan kompetensi guru. Antara kompetensi guru dan kinerja guru dipengaruhi oleh pengajaran eksternal misalnya faktor organisasi, kepemimpinan, lingkunggan sekilah dan lain-lain.  Pengalaman siswa merupakan pengalaman belajar total siswa dilihat dari aspek perilaku, afektif dan kognitif.
Profesional guru dapat dibentuk dan dikembangkan, karena profesional tidak terbentuk sejak lahir. Sehingga guru yang belum profesional mempunyai kesempatan yang sama untuk membentuk dan mengembangkan sikap profesional seorang guru. Pengembangan profesional berhubungan dengan kinerja tinggi yang selalu terfokus dan melayani strategi jangka panjang yang terencana dengan baik. Supaya efektif dalam pengembangan profesional harus didasarkan pada strategi kurikuler dan instruksional yang tinggi. Selain itu profesional harus (1) memperdalam pengetahuan guru mata pelajaran yang diajarkan, (2) meningkatkan kemampuan mengajar dikelas, (3) mengikuti perkembangan bidang individu dan pendidikan umum, (4) menghasilkan dan menyuumbangkan pengetahuan baru ke profesi dan (5) meningkatkan kemampuan untuk memonitor pekerjaan siswa, dalam rangka memberikan umpan balik konstruktif kepada siswa dan tepat mengarahkan mengajar.
Yang paling utama dalam pengembangan profesional harus fokus pada strategi instruksional yang terbukti mempengaruhi kinerja siswa. Selain itu, pengembangan profesional harus disampaikan dengan menggunakan strategi-strategi yang membawa pada proses pengembangan profesional.
Karakteristik guru profesional antara lain:
Ø  Mendalami pengetahuan guru tentang mata pelajaran
Ø  Mempertajam ketrampilan kelas
Ø  Mengikuti perkembangan materi pelajaran dan pendidikan secara umum
Ø  Berkontribusi pengetahuan baru untuk profesi
Ø Meningkatkan kemampuan untuk memonitor pekerjaan siswa
Ø Pusat pada materi pelajaran, kelemahan pedagogis dalam organisasi, pengukuran kinerja siswa dan penyelidikan mengenai pertanyaan profesional yang relevan secara lokal
Ø Mendukung interaksi antara guru-guru
Ø Memberikan kesempatan pada guru-guru untuk mencoba hal baru dan menerima umpan balik dari teman-teman guru.
Ø Berlangsung dalam waktu yang lama
DAFTAR PUSTAKA:
Harden dan Crosby. 2000. AMEE Guide No 20: The good teacher is more than a
lecturerÐ the twelve roles of the teacher.
Carvax Publishing.Vol 22.No 4

Rubio, Chelo Moreno. 2009. EFFECTIVE TEACHERS –PROFESSIONAL AND
            PERSONALSKILLS
.
ENSAYOS. Nº24,2009,(35-46)

Sandra.2003.Teacher Professional Development: It’s Not an Event, It’s a Process.
           
CORD

Yin-cheong,CHENG. Wai-ming,TAM. dan Kwok-tung, TSUI. 2002. New
            Conceptions of Teacher Effectiveness and Teacher Education in the New
            Century.
Hong  Kong Teachers’ Centre Journal.Vol. 1